Bagian 7 – 8
Operasional
Sistem beroperasi dengan dua stasiun lapangan dan satu base camp. Bagian ini memuat penempatan ketiga titik, topologi datanya, langkah survei Wi-Fi sebelum pemasangan, dan jadwal perawatan berkala dari harian hingga tahunan.
7Penempatan & Topologi
Dua stasiun dipasang di kawah aktif — A di Kawah Sikidang dan B di Kawah Timbang. Keduanya mendorong data via LoRa 433 MHz ke Base C di Dusun Bajeng, sekitar 0,7 km dari Kawah Timbang, yang meneruskannya ke internet dan menyalakan alarm lokal.
Gambar di samping adalah tampilan teknis (blueprint) susunan bagian dalam base station. Berbeda dari gambar pada halaman perangkat keras yang berfokus pada eksterior, gambar ini menguraikan anatomi internal unit penerima beserta alur daya dan jalur kabelnya.
Atmospheric Sensor Array. Berada di puncak tiang, tepat di titik tertinggi struktur, agar sampel udara terambil bebas tanpa halangan fisik sebelum diteruskan ke jalur pemrosesan.
Communication Antenna. Terpasang tepat di bawah sensor array pada tiang yang sama, memisahkan jalur radio dari jalur sensor sehingga pemancaran tidak mengganggu pembacaan.
Solar Panel Mount Bracket. Rangka penyangga yang memasang panel surya miring di atas junction box. Di dalam kotak itulah Solar Charge Controller mengatur arus masuk dan Battery Pack menyimpan energi untuk operasi malam serta cuaca mendung.
Enclosure. Kompartemen tahan cuaca yang menampung Data Logger dan Modem, menyatu dengan modul daya dalam satu wadah tertutup.
Enclosure Mount Bracket. Klem yang mengikat enclosure pada tiang vertikal. Seluruh kabel masuk dan keluar dari bagian bawah enclosure — menuju panel surya dan sensor array — sehingga air hujan tidak merembes masuk dan uap belerang yang korosif tidak mengendap di antara komponen elektronik.
7.1 Jalur data cadangan di stasiun
Bila LoRa tidak mendapat ACK, stasiun mencoba Wi-Fi terhadap AP whitelist di sekitarnya, lalu GPRS SIM800L. SMS alarm adalah jalur terakhir. Artinya operasional tetap berjalan meski base C mati listrik selama beberapa jam — data terus masuk ke server melalui jalur seluler.
7.2 Survei Wi-Fi pra-pemasangan
WIFI_RSSI_MIN. Di bawah itu, AP tidak dicatat ke whitelist.WIFI_LIST[] / WIFI_PW[] pada firmware — maksimal beberapa SSID agar scan tetap di bawah 10 detik.8Jadwal Perawatan
Perawatan dirancang agar bisa dijalankan petugas lapangan dengan alat sederhana: laptop, kabel USB, kalibrator H₂S 0 ppm dan CO₂ 5.000 ppm, serta kuota pulsa.
| Frekuensi | Kegiatan |
|---|---|
| Harian | Cek dashboard: data terakhir masuk, RSSI terakhir per stasiun, tegangan baterai malam hari. |
| Mingguan | Unduh log base C, periksa tren RSSI dan SNR LoRa, catat stasiun dengan kegagalan ACK terbanyak. |
| Bulanan | Bersihkan inlet NDC30 (debu/belintang sulfida); cross-check SCD41 udara segar (harus sekitar 400 ppm). |
| Per 6 bulan | Kalibrasi span: H₂S dengan gas 0 ppm, CO₂ dengan 5.000 ppm. Bandingkan hasil sebelum dan sesudah. |
| Per 12 bulan | Top-up pulsa SIM800L; tinjau umur sensor — SCD41 ± 10 tahun, BME688 ± 10 tahun, NDC30 ± 2 tahun. |
| Setelah hujan lebat | Periksa kebocoran enclosure IP65, kekencangan gel seal, kondisi desiccant, jejak arus bocor / struktural antena. |
Umur NDC30 (± 2 tahun) adalah yang terpendek dan harganya paling besar — anggarkan satu unit cadangan sejak awal (lihat BOM per stasiun).
Petugas harian
Cukup buka dashboard dan pastikan tiga baris data terakhir tidak lebih tua dari 2 × siklus (± 4 menit) dan baterai tidak turun mendekati 6,5 V.
Petugas bulanan
Naik ke titik kawah, bawa kalibrator portabel, kosongkan inlet, jalankan cross-check, catat hasil di log lapangan.
Petugas tahunan
Top-up pulsa, evaluasi tren umur sensor, dan putuskan apakah NDC30 perlu diganti lebih awal berdasarkan hasil kalibrasi span.
setAutoBaseline(false) dan kalibrasi span berkala (lihat tabel risiko). Tanpa kalibrasi rutin, pembacaan CO₂ dapat bergeser perlahan tanpa alarm apa pun.